Humor

Keislaman

Tips

Menjadi Lebih Baik (?)



Banyak narasi seperti diatas, sebagai dalih penguatan atas HIJRAH-nya seseorang dari (yang dianggap) salah menuju (yang dianggap) kaffah, benarkah seperti itu?

Menelisik fenomena HIJRAH JAMAN NOW, tidak sedikit artis ibukota yang memilih jalan ini. Alih-alih untuk mengenal islam lebih dalam, akhirnya memilih ustadz yang menyampaikan islam dengan cara instant, (karena kalau ikutan belajar dipondok, akan memakan waktu yang sangat lama).

Oke, kita kupas pandangan HIJRAH ini terlebih dahulu.
Maa huwa HIJRAH? secara harfiah, hijrah artinya berpindah dari satu tempat menuju tempat lain. Hijrah yang dilakukan oleh kanjeng nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi Wasallam adalah berpindahnya beliau dan pengikutnya dari makkah menuju madinah (yatsrib) atas perintah Allah, guna menguji ketebalan iman para sahabat kala itu, mengamankan nyawa dan untuk kembali lagi ke makkah saat situasi sudah memungkinkan.

Zaman now, hijrah diartikan kembali kejalan yang benar. Lhoo.. Pindah sama kembali, punya makna yg beda lho.. Kalo merujuk hijrahnya kanjeng nabi, dari makah ke madinah (hanya sementara) kemudian untuk kembali lagi ke makkah. Apakah lantas yang berhijrah akan kembali ke titik awal lagi dalam kubangan dosa-nya?.

Atau ada yang mengartikan, berpindah dari kehidupan yang bathil, ke kehidupan yang lebih haq. Oke, kalau yang ini mashok.. Karena masih menggunakan kata BERPINDAH. Kemudian kalau makna hijrah seperti itu, lantas bedanya sama TAUBAT apaan dong?.

Ada yang bilang gini, "Lho essensinya kan sama, meninggalkan yang bathil dan menuju yang lebih baik, kenapa dipermasalahkan redaksinya?"
Sebetulnya bukan mempermasalahkan redaksinya, TAUBAT adalah merasa bahwa diri ini berdosa, sehingga tertanam dalam hati untuk memohon ampunan dan tidak akan mengulangi dosa serupa dilain waktu. Hijrah yang sering disalah artikan adalah berpindah dari hal yang bathil menuju hal yang haq. Sampai disini sudah mudeng berbedanya?.

Gini nih, taubat merasa berdosa (diawali dari perasaan bersalah), nah hijrah dari salah menuju yang enggak salah/sudah benar. Disinilah bedanya. Karena sudah berada di jalan yang benar, akhirnya ketika melihat yang dirasa enggak bener, ya bisa disalahkan, yang pada akhirnya merasa diri benar yang lain salah.

Jaman dahulu, walisongo gak memproklamirkan HIJRAH tuh, beliau-beliau ngajakin orang-orang di Nusantara ini untuk berislam, tentunya tidak dengan cara yang ekstrem, ya lewat budaya, ya lewat pendekatan sosial, sehingga Islam diterima baik oleh masyarakat Nusantara kala itu.

Nah, dari pada ikut-ikutan HIJRAH yang pada akhirnya malah memisahkan diri dari komunitas yang dianggap salah, mending mulailah muhasabah... Ngaku salah, mohon ampunan, setelah itu berikrar pada diri sendiri, untuk tidak mengulangi kesalahan. Cukup... Karena pada dasarnya, gak ada yang 100% benar di dunia ini, apalagi merasa diri sudah berada dijalan yang benar dan menganggap yang lain yang tidak sehaluan, adalah salah.

Wallahu a'lam.

No comments:

Post a Comment