(Muhammad Nuskan Abdi)
Sudah bukan barang baru, menggunakan dalil untuk berkampanye, agar menarik masyarakat untuk memilih calon yang diunggulkan atau dijagokan dalam sebuah kontastasi politik.
Baru kemarin di tahun 2014, dikala 2 pasang calon sedang dijagokan dalam pertarungan PILPRES, Pasangan Prabowo - Hatta dg nomor urut 1, dan Jokowi - Jusuf Kalla dg nomor urut 2. Banyak berseliweran dalil-dalil yang mengatakan ALLAH ITU 1 DAN MENYUKAI YANG GANJIL. Dalil gini lho, dipakai untuk kampanye, opo wis gak podo waras cah-cah ngunu kuwi. Yo ndilalah di ganjar kalah. Kemudian, 2017 kemarin, untuk menggulingkan Basuki Tjahaya Purnama dalam kontes pilkada DKI, padahal lho, milih Gubernur, dalile ALLAH ITU 1 DAN MENYUKAI YANG GANJIL, muncul lagi. Yo ndilalah diganjar menang.
Giliran ditahun 2019, saat partai usungan PENGOBRAL DALIL ini dapet nomor genap semua, dalil ini lenyap gak bersisa... Blaaaas gak ono, apalagi calon presiden yg diusungnya dapet nomor genap pula, paket komplit gak tuh?.
Maksudnya gini lho... Pilpres yo pilpres, pilgub yo pilgub, pilbup/piwalkot yo kuwi, gak usah bawa2 dalil mbarang iku lho. Kalo gusti Allah berkehendak lain, dalilmu iku usang, gak mok pake lagi. Kemudian dalil2 itu nanti akan jadi bahan olok2an musuhmu di pil pil itu. Kemudian nanti kau bilang, mereka penista agama karena ngolok-olok dalil yg dulu kau pake untuk mengusung calon pilihanmu?. Demo maneh.... Ora kesel 😪
Nah, kontes pemilu serentak tahun 2019, yuk coba bersihkan dari kampanye2 yang gak wajar itu, kampanye ki isine adu program, adu gagasan, kampanye kog isine menjatuhkan lawan, pemilu opo meh gulat?.
Ayok sadar, mau sampai kapan dalil-dalil dijual murah untuk kepentingan politik fana?

No comments:
Post a Comment